Blog › Uncategorized › Resmi! Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Kini Ada di Indonesia
Heldania Ultri Lubis
Content Writer & Analyst
4 min read February 05, 2024 in

Tahun 2019, disebutkan bahwa ada beberapa daerah di Indonesia yang siap membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), yakni Surabaya, Bekasi, Solo, dan DKI Jakarta. Dua tahun berlalu, Surabaya menjadi kota pertama yang resmi membuat Indonesia memiliki PLTSa. Bila berkaca dari Denmark yang mengubah 54% sampah menjadi energi listrik, peresmian PLTSa pertama di Indonesia ini merupakan pertanda baik dan komitmen penting dalam mengolah sampah yang tidak berguna menjadi hal yang bermanfaat seperti listrik.
Sudah lama TPA Benowo, Surabaya menjadi sumber bau tidak sedap yang mengganggu aktivitas warga sekitar. Sekitar 2,9 juta penduduk Surabaya menghasilkan 2.800 ton sampah per hari pada 2017-2018. Pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah ini dimulai sejak tahun 2012 demi menyulap tumpukan sampah yang menggunung di TPA Benowo menjadi produksi energi terbarukan yang siap digunakan. Sampah diubah menjadi sumber gas metana, bahan baku utama listrik, lewat sistem landfill gas collection. Kota Surabaya membuka harapan besar bagi Indonesia dalam mencapai cita-cita pemerintah mengurangi sampah hingga 30% pada 2025.
Presiden Jokowi meresmikan instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) pertama di Indonesia pada tanggal 6 Mei 2021 lalu. Kota Surabaya yang menjadi kota pertama yang berhasil mengoperasikan PLTSa Gasifikasi Benowo menghabiskan total investasi sebesar USD 54,2 juta atau Rp704,4 miliar. Adapun per harinya, jumlah sampah yang mampu diolah PLTSa Gasifikasi ini adalah 1.000 ton. Ini merupakan kabar baik bagi Indonesia yang memiliki jumlah timbunan sampah sangat besar, mencapai 67,8 juta ton di tahun 2020 lalu.
Per harinya, TPA Benowo mengolah sebanyak 1.300–1.500 ton sampah yang menghasilkan listrik sebesar 2 megawatt per hari dengan sistem landfill gas collection. Kesuksesan sistem landfill gas collection dalam menghasilkan listrik tidak lantas menjadi akhir dari pengolahan sampah menghasilkan listrik. Kini, TPA Benowo bersiap menerapkan sistem gasifikasi sebagai upaya memperoleh pasokan listrik yang lebih besar dari pengolahan sampah. Diperkirakan, besaran listrik yang bisa dihasilkan menggunakan sistem gasifikasi mencapai 9 megawatt per hari, membuat instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan ini berinovasi menuju 11 megawatt per hari. Pengembangan infrastruktur berupa Gasifikasi Power Plant sendiri ditarget selesai akhir tahun 2021 ini.
Proses pembangkit listrik tenaga sampah di TPA Benowo menggunakan sistem landfill gas collection terdiri dari beberapa langkah, yaitu:
Sementara itu, gasifikasi merupakan sebuah proses perubahan bahan bakar padat menjadi gas. Pada prinsipnya, teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik sangat sederhana, yakni:
Adapun sejumlah keunggulan dari teknologi gasifikasi adalah:
Dengan peresmian pembangkit listrik tenaga sampah yang kini ada Indonesia, harapan untuk pengurangan sampah kini bukan lagi sekadar impian. Pastikan Anda berkontribusi positif terhadap kondisi Bumi saat ini dengan memanfaat energi ramah lingkungan dan mengurangi sampah rumah tangga secara maksimal, caranya dengan memakai panel surya atap dari SolarKita. Semoga bermanfaat!