Blog › Uncategorized › SGP Percepat Penghentian Diesel dan Alih ke Bahan Bakar Rendah Karbon
Dwita Rahayu Safitri
Content Writer & Analyst
4 min read September 27, 2024 in

Singapura, sebuah negara kota yang dikenal dengan kebijakan lingkungannya yang progresif, kembali menunjukkan komitmennya untuk memerangi perubahan iklim dengan mempercepat rencana penghentian penggunaan diesel dan beralih ke bahan bakar rendah karbon. Kebijakan ini sejalan dengan tujuan jangka panjang Singapura untuk mencapai emisi nol bersih (net zero emissions) pada tahun 2050.
Sebagai salah satu pusat perdagangan dan transportasi terbesar di Asia Tenggara, keputusan Singapura untuk mempercepat transisi dari diesel ke bahan bakar rendah karbon tidak hanya berpengaruh terhadap lingkungan, tetapi juga memiliki dampak signifikan pada pasar energi dan transportasi regional.
Singapura telah mengumumkan rencana untuk mempercepat penghentian penggunaan kendaraan diesel pada tahun 2030, lima tahun lebih awal dari rencana semula. Pemerintah Singapura telah menetapkan bahwa mulai tahun 2025, semua kendaraan baru yang dijual di negara tersebut harus berupa kendaraan listrik atau kendaraan yang menggunakan bahan bakar rendah karbon lainnya. Langkah ini merupakan bagian dari rencana Singapura untuk menghapuskan sepenuhnya kendaraan diesel, termasuk bus umum dan taksi.
Dalam pernyataan resmi, Otoritas Transportasi Darat Singapura (Land Transport Authority) menyebutkan bahwa semua bus umum yang saat ini menggunakan diesel akan diganti dengan bus listrik atau berbahan bakar hidrogen pada tahun 2040. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk meningkatkan infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan listrik (EV) di seluruh pulau, dengan target 60.000 titik pengisian daya pada tahun 2030.
Untuk menggantikan diesel, Singapura sedang mengadopsi berbagai alternatif bahan bakar rendah karbon. Salah satu inisiatif utama adalah promosi penggunaan kendaraan listrik dan hidrogen. Kendaraan listrik telah terbukti menjadi solusi yang efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, sementara hidrogen dianggap sebagai bahan bakar masa depan yang bersih karena hanya menghasilkan uap air sebagai produk sampingan ketika digunakan.
Selain itu, Singapura juga mendorong penggunaan bahan bakar biofuel dan bahan bakar sintetis (e-fuels) yang dihasilkan dari sumber daya terbarukan. Bahan bakar ini memiliki potensi untuk mengurangi emisi karbon secara signifikan karena diproduksi dari bahan mentah organik yang menyerap CO2 selama proses pertumbuhan, sehingga menciptakan siklus karbon yang lebih seimbang.
Keputusan Singapura untuk mempercepat penghentian penggunaan diesel dan beralih ke bahan bakar rendah karbon mencerminkan komitmen kuat negara ini terhadap keberlanjutan. Ini juga menegaskan posisi Singapura sebagai pemimpin di kawasan Asia Tenggara dalam hal inovasi lingkungan dan kebijakan hijau.
Dalam beberapa tahun mendatang, diharapkan bahwa langkah-langkah ini akan semakin mempercepat transisi Singapura ke sistem transportasi yang lebih bersih dan efisien. Dengan infrastruktur yang mendukung dan kesadaran publik yang meningkat, Singapura memiliki potensi untuk menjadi model bagi negara-negara lain yang ingin mengadopsi pendekatan serupa menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.