Blog › Uncategorized › Raup Untung Karbon Kredit dengan Panel Surya
Dwita Rahayu Safitri
Content Writer & Analyst
4 min read September 23, 2025 in

Terkait perdagangan karbon dalam bentuk emisi gas karbon dioksida, sering kali muncul pertanyaan seperti, “Bagaimana sebenarnya emisi gas karbon bisa diperdagangkan?” atau “Kalau membeli emisi karbon, apa yang sebenarnya dibeli?”
Perdagangan karbon pada dasarnya adalah aktivitas jual beli unit emisi karbon. Unit ini digunakan untuk mengimbangi (offset) emisi yang dihasilkan suatu pihak, terutama dari aktivitas usaha yang sulit dihindari dari penggunaan energi fosil. Dengan membeli unit emisi karbon, perusahaan bisa menyeimbangkan jejak karbon yang mereka hasilkan agar lebih ramah lingkungan.
Namun, definisi ini biasanya masih terasa abstrak. Maka dari itu, mari kita bahas lebih jauh supaya gambaran mengenai perdagangan karbon lebih jelas.
Karbon dioksida (CO₂) merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Karena jumlahnya paling dominan di atmosfer, istilah “emisi karbon” sering dipakai untuk mewakili emisi gas rumah kaca secara umum.
Efek gas rumah kaca ini sangat nyata: suhu bumi meningkat, iklim berubah drastis, hingga menimbulkan ancaman terhadap keberlangsungan hidup manusia. Untuk mencegah dampak yang lebih buruk, negara-negara di seluruh dunia menyepakati target penurunan emisi karbon melalui berbagai kesepakatan internasional.
Dari sinilah muncul konsep unit emisi karbon, atau yang lebih populer dikenal sebagai kredit karbon (carbon credit). Unit ini ibarat “sertifikat” yang mewakili jumlah emisi karbon tertentu yang berhasil dikurangi atau dicegah dari masuk ke atmosfer. Inilah yang diperjualbelikan dalam pasar karbon.
Perdagangan karbon merupakan sistem yang memungkinkan negara-negara untuk mengkompensasi emisi gas rumah kaca dengan cara membeli dan menjual kredit karbon Prinsipnya sederhana: negara atau perusahaan yang berhasil menekan emisi gas rumah kaca dapat menjual kredit karbon yang mereka hasilkan kepada pihak lain—termasuk negara atau perusahaan—yang masih memiliki tingkat emisi tinggi (X. Chen, 2021; Gao, 2020; Qin, 2018; W. Zhang, 2020; Y. J. Zhang, 2020b).
Dengan cara ini, perdagangan karbon diharapkan bisa menjadi solusi nyata bagi negara-negara dalam menjaga ekologi yang berkelanjutan. Selain itu, sistem ini juga berperan penting dalam menghadapi fenomena pemanasan global dan perubahan iklim, yang saat ini sudah menjadi isu global dan mendapat perhatian serius dari masyarakat internasional.
Selama tiga dekade terakhir, kesepakatan global mendorong perusahaan dan individu untuk mengurangi jejak karbon mereka. Berbagai cara ditempuh, seperti:
Mendesain bangunan yang hemat energi dengan pencahayaan alami dan ventilasi optimal.
Mengurangi penggunaan kertas untuk menjaga kelestarian hutan.
Mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, atau panas bumi.
Melakukan reboisasi dan penanaman kembali hutan untuk menyerap CO₂ dari atmosfer.
Semua upaya ini membutuhkan investasi besar. Nah, agar tetap berkelanjutan, setiap usaha yang berhasil mengurangi emisi berhak menghasilkan unit emisi karbon yang bisa dijual ke pasar karbon. Inilah yang memberi nilai ekonomi dari aksi ramah lingkungan.
Salah satu cara paling nyata untuk berkontribusi dalam penurunan emisi karbon adalah dengan memasang sistem panel surya.
Kenapa panel surya? Karena listrik yang dihasilkan berasal dari energi matahari, bukan dari pembakaran batubara atau gas alam yang melepaskan CO₂. Artinya, setiap kilowatt-hour (kWh) listrik dari panel surya berarti ada sejumlah emisi karbon yang berhasil dicegah.
Nah, pencegahan emisi inilah yang kemudian bisa dihitung dan dikonversi menjadi kredit karbon. Kredit karbon ini dapat diperjualbelikan di pasar karbon, baik domestik maupun internasional. Dengan begitu, pemilik panel surya tidak hanya hemat tagihan listrik, tetapi juga bisa membuka peluang untuk mendapatkan keuntungan tambahan dari perdagangan karbon.
Bagi perusahaan, langkah ini bukan hanya soal keuntungan finansial, tapi juga bagian dari strategi ESG (Environmental, Social, Governance) yang semakin penting untuk citra bisnis di mata konsumen, investor, maupun regulator.
Memanfaatkan panel surya bukan hanya soal berhemat listrik atau ikut serta menjaga bumi, tapi juga bisa membuka peluang baru lewat perdagangan karbon. Dengan semakin berkembangnya pasar karbon di Indonesia dan dunia, kredit karbon yang dihasilkan dari energi bersih akan menjadi aset yang bernilai tinggi.
Jika Anda tertarik untuk mulai beralih ke energi surya sekaligus ingin tahu lebih lanjut soal potensi karbon kredit dari sistem panel surya, segera lakukan langkah pertama bersama SolarKita.
Kunjungi www.solarkita.com untuk konsultasi gratis mengenai pemasangan sistem panel surya yang sesuai kebutuhan Anda.