Blog › Uncategorized › Mengatasi Emisi Karbon dalam Industri Penerbangan
Dwita Rahayu Safitri
Content Writer & Analyst
3 min read July 20, 2024 in

Industri penerbangan adalah salah satu sektor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap emisi karbon global. Dengan meningkatnya permintaan perjalanan udara, tantangan untuk mengurangi jejak karbon di sektor ini semakin mendesak. Artikel ini akan membahas strategi dan teknologi yang dapat diterapkan untuk mengatasi emisi karbon dalam industri penerbangan, serta upaya global yang dilakukan untuk mencapai penerbangan yang lebih berkelanjutan.
Menurut data dari International Air Transport Association (IATA), industri penerbangan bertanggung jawab atas sekitar 2-3% dari total emisi karbon dioksida (CO2) global. Emisi ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil oleh pesawat terbang, yang menghasilkan gas rumah kaca seperti CO2 dan nitrogen oksida (NOx). Selain itu, emisi dari pesawat juga berkontribusi terhadap efek pemanasan global melalui pembentukan awan contrail dan perubahan awan cirrus.
Salah satu pendekatan utama untuk mengurangi emisi karbon adalah dengan mengembangkan pesawat yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar. Pesawat generasi terbaru, seperti Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A350, dirancang untuk mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 25% dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya.
Penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel, SAF) adalah langkah penting dalam mengurangi emisi karbon. SAF diproduksi dari sumber-sumber yang dapat diperbarui, seperti limbah tanaman dan minyak goreng bekas, yang menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil konvensional.
Pengembangan pesawat listrik dan hibrida juga menjadi fokus utama dalam upaya mengurangi emisi karbon. Meskipun teknologi ini masih dalam tahap awal, beberapa perusahaan seperti Airbus dan NASA telah melakukan uji coba pesawat listrik dan hibrida yang diharapkan dapat mengurangi emisi secara signifikan di masa depan.
Mengoptimalkan rute penerbangan dapat mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi karbon. Ini mencakup penggunaan teknologi navigasi canggih untuk menemukan rute terpendek dan paling efisien, serta pengaturan kecepatan dan ketinggian terbang yang optimal.
Setiap kilogram tambahan berat pesawat memerlukan lebih banyak bahan bakar untuk terbang. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi berat pesawat, seperti menggunakan bahan komposit ringan untuk struktur pesawat dan mengoptimalkan muatan kargo, dapat membantu mengurangi emisi karbon.
Memastikan pesawat dalam kondisi optimal melalui perawatan dan perbaikan yang efisien dapat mengurangi konsumsi bahan bakar. Program perawatan prediktif menggunakan teknologi sensor dan analisis data dapat membantu mendeteksi dan mengatasi masalah sebelum mempengaruhi efisiensi bahan bakar.
International Civil Aviation Organization (ICAO) telah mengembangkan program Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) untuk mengatasi emisi karbon dari penerbangan internasional. Program ini bertujuan untuk menstabilkan emisi karbon pada tingkat 2020 dengan mewajibkan maskapai penerbangan untuk mengimbangi peningkatan emisi melalui pembelian kredit karbon.
Investasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D) teknologi penerbangan hijau sangat penting untuk mencapai penerbangan berkelanjutan. Pemerintah, industri, dan akademisi perlu bekerja sama dalam mendanai proyek-proyek inovatif yang bertujuan untuk mengurangi emisi karbon.
Mengatasi emisi karbon dalam industri penerbangan merupakan tantangan besar yang memerlukan pendekatan multi-faceted. Melalui pengembangan teknologi pesawat yang lebih efisien, penggunaan bahan bakar alternatif, dan penerapan praktik operasional yang lebih baik, industri penerbangan dapat mengurangi jejak karbonnya. Selain itu, kebijakan dan kerjasama internasional memainkan peran penting dalam mendorong adopsi solusi berkelanjutan. Dengan komitmen global dan inovasi terus-menerus, kita dapat mencapai penerbangan yang lebih ramah lingkungan.