Blog › Uncategorized › Ketika Dunia Hijau Bertemu Blockchain: Keterkaitan Antara Kripto dan Carbon Trading
Dwita Rahayu Safitri
Content Writer & Analyst
4 min read October 20, 2025 in

Perdagangan karbon (carbon trading) merupakan salah satu upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Mekanisme ini memungkinkan negara maupun perusahaan membeli dan menjual izin emisi karbon, menciptakan nilai ekonomi dari upaya pengurangan emisi. Di sisi lain, dunia kripto dan teknologi blockchain berkembang pesat, menghadirkan inovasi finansial yang lebih transparan, efisien, dan terdesentralisasi. Menariknya, kedua bidang ini kini mulai beririsan: blockchain digunakan untuk merevolusi cara perdagangan karbon dilakukan secara global.
Menurut penelitian Laurens Swinkels (2024) dalam jurnal International Review of Economics and Finance, inovasi layanan keuangan berbasis blockchain dapat membantu menurunkan emisi karbon global dengan memangkas biaya perantara dalam pasar karbon sukarela (voluntary carbon market). Salah satu contoh nyata adalah AirCarbon Exchange (ACX), bursa berbasis blockchain yang memperdagangkan token karbon secara transparan dan efisien.
Pada tahun 2021–2022, tercatat sekitar 3,8 juta ton CO₂ ekuivalen telah ditokenisasi di platform tersebut, dengan nilai perdagangan sekunder mencapai USD 21,2 juta. Tokenisasi ini memungkinkan perusahaan membeli, menjual, bahkan “membakar” token karbon untuk menandai penghapusan emisi yang telah dikompensasikan. Dengan sistem blockchain, seluruh transaksi tercatat permanen dan dapat diverifikasi publik, sehingga mengurangi risiko manipulasi data atau greenwashing.
Lebih jauh, penelitian Swinkels menunjukkan bahwa harga token karbon di pasar blockchain bergerak selaras dengan harga kredit karbon di pasar konvensional. Artinya, penggunaan teknologi kripto tidak hanya mempercepat proses transaksi, tetapi juga menjaga integritas nilai ekonomi karbon itu sendiri.
Platform lain yang mengusung konsep serupa antara lain Toucan Protocol, Moss Carbon Credit (MCO2), dan JustCarbon Removal, yang semuanya berbasis pada prinsip tokenisasi karbon di jaringan blockchain. Teknologi ini memungkinkan setiap kredit karbon direpresentasikan sebagai token digital yang dapat diperdagangkan lintas negara tanpa batasan birokrasi tradisional.
Beberapa perusahaan global telah memanfaatkan integrasi antara blockchain dan pasar karbon:
Toucan Protocol (Ethereum Network): mengubah kredit karbon menjadi token BCT (Base Carbon Tonne) yang dapat diperdagangkan secara bebas di pasar kripto.
Moss Earth (Brasil): meluncurkan token MCO2 yang mewakili satu ton karbon offset dari proyek konservasi hutan Amazon.
AirCarbon Exchange (Singapura): berfungsi sebagai bursa karbon digital resmi, dengan sistem minting, trading, dan burning berbasis blockchain untuk menjamin transparansi.
Implementasi ini membuktikan bahwa aset digital dapat menjadi instrumen keuangan berkelanjutan, bukan sekadar spekulatif, dan mampu mengakselerasi ekonomi hijau global.
Korelasi antara carbon trading, kripto, dan energi terbarukan sangat erat. Teknologi blockchain yang menopang perdagangan karbon membutuhkan sumber energi bersih agar dampaknya terhadap lingkungan tetap netral. Inilah mengapa energi terbarukan seperti sistem panel surya (PLTS Atap) menjadi elemen penting dalam ekosistem ini.
Dengan menggunakan listrik dari panel surya, proses mining, token minting, maupun transaksi blockchain dapat berjalan tanpa menambah emisi karbon baru. Selain itu, proyek PLTS Atap yang menghasilkan energi hijau dapat didaftarkan sebagai proyek kredit karbon, kemudian ditokenisasi di platform blockchain untuk dijual kepada pihak yang ingin mengimbangi jejak karbonnya.
Melalui integrasi antara sistem energi surya dan blockchain, terbuka peluang untuk menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang tidak hanya digital tetapi juga ramah lingkungan.
Keterkaitan antara carbon trading dan kripto menunjukkan bagaimana inovasi digital dapat mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Tokenisasi kredit karbon melalui blockchain meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kepercayaan pasar, sekaligus membuka akses global terhadap perdagangan emisi.
Ketika dunia hijau bertemu dengan blockchain, kita melihat masa depan di mana investasi digital berperan aktif dalam menjaga bumi tetap lestari. Namun, untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang, adopsi energi bersih seperti panel surya menjadi kunci utama dalam mengimbangi kebutuhan energi sistem blockchain yang terus berkembang.
Ingin berkontribusi pada masa depan energi bersih? Kunjungi www.solarkita.com dan temukan solusi sistem panel surya terbaik untuk bisnis dan rumah Anda.
Sumber: Laurens Swinkels. Trading carbon credit tokens on the blockchain. International Review of Economics and Finance, 91 (2024), 720–733. Diakses pada 20 Oktober 2025. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1059056024000121