Blog › Uncategorized › Hampir 50% Sampah di Bumi dari Sisa Makanan: Penyebab, Dampak, dan Solusinya
Dwita Rahayu Safitri
Content Writer & Analyst
4 min read October 29, 2024 in

Sampah makanan menjadi salah satu masalah lingkungan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Menurut data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), hampir 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun, yang setara dengan sepertiga dari total produksi pangan global. Bahkan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa sampah makanan menyumbang hampir 50% dari total sampah di dunia. Di Indonesia sendiri, masalah sampah makanan juga menjadi perhatian serius, mengingat besarnya dampak terhadap lingkungan, ekonomi, dan ketahanan pangan.
Sampah makanan sering kali diabaikan karena dianggap bagian alami dari kehidupan sehari-hari, namun sebenarnya dampaknya sangat besar. Banyak faktor yang menyebabkan tingginya volume sampah makanan, di antaranya:
Menurut World Resources Institute (WRI), sekitar 24% dari total kalori makanan global hilang atau terbuang dalam proses produksi hingga konsumsi. Hal ini tentu merugikan, mengingat masih banyak populasi yang kekurangan gizi dan kelaparan.
Sampah makanan tidak hanya menjadi masalah dari sisi pemborosan pangan, tetapi juga berdampak besar terhadap lingkungan. Ketika sampah makanan dibuang dan membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA), sampah ini menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang lebih berbahaya daripada karbon dioksida dalam mempercepat perubahan iklim.
Selain itu, proses produksi makanan yang akhirnya terbuang juga memerlukan banyak sumber daya seperti air, tanah, dan energi. Menurut FAO, 250 km³ air, 1,4 miliar hektar lahan, dan 3,3 miliar ton CO₂ terbuang sia-sia setiap tahun akibat sampah makanan. Ini sama dengan sekitar 8-10% dari total emisi gas rumah kaca global. Dampak Ekonomi dan Sosial Sampah makanan juga memiliki dampak ekonomi yang besar. Nilai ekonomi dari makanan yang terbuang diperkirakan mencapai $940 miliar per tahun. Di Indonesia, Bank Dunia memperkirakan bahwa rata-rata rumah tangga kehilangan hingga 4% dari pendapatan mereka hanya karena membuang makanan. Ini berarti, selain berdampak pada lingkungan, sampah makanan juga merugikan ekonomi keluarga dan masyarakat.
Di sisi lain, pemborosan pangan ini memperburuk masalah ketahanan pangan global. Sementara lebih dari 800 juta orang di dunia masih kekurangan gizi, banyak makanan yang diproduksi malah berakhir di tempat sampah.
Mengurangi sampah makanan adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan produsen, konsumen, dan pemerintah. Berikut beberapa solusi yang dapat diambil:
Indonesia juga mulai menyadari pentingnya mengurangi sampah makanan. Beberapa program dan inisiatif telah diluncurkan, seperti:
Program-proerupakan awal yang baik, namun masih diperlukan langkah-langkah yang lebih luas dan komprehensif untuk mengurangi sampah makanan di Indonesia.
Sampah makanan menyumbang hampir setengah dari total sampah di dunia, dan dampaknya tidak hanya terbatas pada lingkungan tetapi juga mencakup aspek sosial dan ekonomi. Dengan meningkatnya kesadaran global dan berbagai inisiatif, termasuk di Indonesia, untuk mengurangi pemborosan pangan, ada harapan bahwa jumlah sampah makanan bisa ditekan secara signifikan di masa mendatang.
Mengurangi sampah makanan adalah tanggung jawab bersama yang bisa dimulai dari langkah-langkah kecil, seperti mengurangi pembelian berlebihan, memanfaatkan sisa makanan, serta mendukung program daur ulang dan kompos. Dengan cara ini, kita dapat memberikan dampak positif pada lingkungan dan turut menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.