Blog › Uncategorized › Gaya Hidup Vegan/Vegetarian dan Dampaknya bagi Lingkungan
Dwita Rahayu Safitri
Content Writer & Analyst
3 min read April 17, 2025 in

Gaya Hidup Vegan/Vegetarian dan Dampaknya bagi Lingkungan
Dalam beberapa tahun terakhir, gaya hidup vegan dan vegetarian semakin populer tidak hanya karena alasan kesehatan dan etika terhadap hewan, tetapi juga karena kesadaran akan dampaknya terhadap lingkungan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pilihan pola makan berbasis nabati mampu memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi jejak ekologis manusia. Salah satu kajian mendalam mengenai hal ini diuraikan dalam jurnal SAGES berjudul "Gaya Hidup Vegan/Vegetarian dalam Upaya Menjaga Lingkungan Hidup" oleh Rizka Aprilia (2022).
Produksi daging dan produk hewani merupakan salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca global. Menurut jurnal tersebut, industri peternakan menghasilkan emisi metana dan karbon dioksida dalam jumlah besar, serta menyumbang pada deforestasi dan degradasi lahan (Aprilia, 2022). Di sisi lain, pertanian tanaman untuk konsumsi manusia relatif lebih efisien dalam penggunaan lahan dan air.
Dengan mengurangi atau menghilangkan konsumsi produk hewani, seorang vegan atau vegetarian dapat mengurangi jejak karbon mereka secara signifikan. Dalam jurnal itu disebutkan bahwa "orang yang mengadopsi pola makan vegan/vegetarian membantu menurunkan tekanan terhadap lingkungan melalui pengurangan permintaan terhadap daging yang intensif sumber daya" (Aprilia, 2022, hlm. 3).
Peternakan juga membutuhkan jumlah air yang sangat besar untuk memelihara hewan, menanam pakan, dan pengolahan daging. Deforestasi, terutama di hutan hujan tropis seperti Amazon, sering kali dilakukan demi membuka lahan peternakan atau lahan pertanian pakan ternak. Gaya hidup vegan/vegetarian mampu mengurangi kebutuhan tersebut secara drastis, karena lebih mengandalkan tanaman pangan langsung yang lebih efisien dalam pemanfaatan lahan dan air.
Eksploitasi lahan untuk peternakan tidak hanya mengurangi hutan dan cadangan karbon alami, tetapi juga menghancurkan habitat berbagai spesies. Aprilia (2022) menjelaskan bahwa salah satu bentuk ancaman terbesar terhadap keanekaragaman hayati berasal dari ekspansi lahan pertanian dan peternakan yang tak terkendali.
Perubahan pola makan mungkin tampak sebagai keputusan pribadi, namun akumulasi dari jutaan individu yang mengadopsi pola makan berbasis nabati dapat memberikan dampak besar bagi bumi. Jurnal tersebut menegaskan bahwa "peran individu dalam mengubah gaya hidupnya menjadi lebih berkelanjutan, termasuk melalui pola makan, sangat penting dalam menanggulangi krisis lingkungan" (Aprilia, 2022, hlm. 4).
Gaya hidup vegan dan vegetarian bukan sekadar tren kesehatan atau bentuk solidaritas terhadap hewan, melainkan juga langkah konkret dalam menjaga bumi. Mengurangi konsumsi produk hewani terbukti mampu menurunkan emisi gas rumah kaca, menghemat air, menghindari deforestasi, serta melindungi keanekaragaman hayati. Dalam konteks krisis iklim saat ini, transisi menuju pola makan berbasis nabati dapat menjadi bagian dari solusi kolektif yang mendesak dan efektif.
Referensi:
Aprilia, R. (2022). Gaya Hidup Vegan/Vegetarian dalam Upaya Menjaga Lingkungan Hidup. SAGES: Jurnal Kajian Ilmu Sosial dan Humaniora, 1(1), 1–6. https://jurnalsages.ac.id/index.php/sages/article/view/17/12