SHARE

BlogUncategorizedBagaimana PLTS Atap Bisa Mengurangi Emisi Karbon Rumah Tangga?

Bagaimana PLTS Atap Bisa Mengurangi Emisi Karbon Rumah Tangga?

Author

Dwita Rahayu Safitri

Content Writer & Analyst

4 min read April 14, 2025 in

Thumnail Blog

Bagaimana PLTS Atap Bisa Mengurangi Emisi Karbon Rumah Tangga?

Secara global, emisi karbon dioksida (CO₂) dari sektor ketenagalistrikan terus mengalami peningkatan yang signifikan—bahkan hampir mencapai 80% dengan kontribusi terbesar berasal dari pesatnya pertumbuhan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, khususnya di kawasan Asia (International Energy Agency, 2021). Sekitar dua pertiga emisi gas rumah kaca di dunia berasal dari pembakaran bahan bakar fosil yang digunakan untuk listrik, pemanas, transportasi, dan industri, menjadikan sektor energi sebagai fokus utama dalam upaya pengurangan emisi secara global (Widodo et al., 2020). Hal ini mendorong pentingnya transisi ke Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam pertemuan internasional COP-26, untuk mencapai target penurunan emisi karbon dan Net Zero Emission pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat (Wardhana, 2020).

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, dengan total potensi mencapai 442 GW, di mana energi surya menyumbang porsi terbesar sebesar 207,8 GWp. Sayangnya, hingga kini pemanfaatan energi surya masih sangat minim, yaitu baru sekitar 0,07% dari total potensi yang tersedia (Kementerian ESDM, 2021). Teknologi fotovoltaik menjadi sarana utama dalam konversi energi matahari menjadi listrik (Tambunan, 2020), dan penggunaannya diprediksi terus meningkat, termasuk di Indonesia. Selain itu, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap perubahan iklim, banyak rumah tangga mulai mencari cara untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon. Salah satu solusi yang kini semakin populer adalah menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Tapi bagaimana sebenarnya PLTS Atap bekerja dalam mengurangi emisi karbon rumah tangga?

1. Sumber Energi Bersih dan Terbarukan

PLTS Atap memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi. Tidak seperti listrik dari pembangkit berbasis batu bara atau gas alam yang menghasilkan emisi karbon tinggi, energi matahari tidak menghasilkan emisi karbon selama proses konversi menjadi listrik. Dengan menggantikan sebagian atau seluruh kebutuhan listrik rumah tangga dari sumber konvensional ke PLTS Atap, otomatis emisi yang dihasilkan bisa ditekan secara signifikan.

Menurut data dari International Renewable Energy Agency (IRENA), setiap kilowatt-peak (kWp) sistem PLTS yang terpasang dapat mengurangi sekitar 1–1,5 ton emisi CO₂ per tahun, tergantung pada lokasi dan intensitas sinar matahari.

2. Mengurangi Ketergantungan pada Energi Fosil

Mayoritas listrik di Indonesia masih berasal dari bahan bakar fosil, terutama batu bara. Semakin banyak rumah tangga yang menggunakan PLTS Atap, maka semakin sedikit permintaan terhadap listrik berbasis fosil. Ini memberikan efek domino positif: menurunkan beban emisi nasional dan mempercepat transisi energi hijau.

3. Menstimulasi Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Penggunaan PLTS Atap juga mendorong perubahan pola pikir. Banyak pengguna PLTS menjadi lebih sadar akan konsumsi energi dan mulai menerapkan kebiasaan hemat energi, seperti menggunakan peralatan listrik efisien dan mengurangi konsumsi listrik di jam-jam tertentu.

4. Meningkatkan Efisiensi Energi Lokal

Karena listrik dari PLTS Atap digunakan langsung di lokasi produksi (rumah itu sendiri), maka kehilangan energi akibat transmisi jarak jauh dapat dihindari. Ini membantu efisiensi sistem kelistrikan secara keseluruhan, sekaligus mengurangi jejak karbon dari proses distribusi energi.

 


 

Studi Kasus: Pengurangan Emisi Karbon di Pekanbaru

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Lingkungan ZONA menunjukkan bahwa implementasi PLTS Atap di Kota Pekanbaru telah memberikan dampak positif dalam pengurangan emisi karbon. Hingga Desember 2022, sembilan rumah tangga yang menggunakan PLTS Atap berhasil mengurangi emisi CO₂ sebesar 31.981 kg, dengan total penghematan energi mencapai 34.022 kWh.

Lebih lanjut, studi tersebut memproyeksikan bahwa jika potensi energi surya di wilayah permukiman Kota Pekanbaru dimanfaatkan secara maksimal, yaitu sekitar 438.227–482.050 MWh per tahun, maka total potensi pengurangan emisi CO₂ dapat mencapai ±411.934–453.127 ton per tahun. Ini setara dengan pengurangan hingga 52% dari total emisi CO₂ sektor rumah tangga pada tahun 2022 .

 


 

Menggunakan PLTS Atap bukan hanya soal menghemat tagihan listrik, tapi juga langkah nyata dalam mengurangi jejak karbon rumah tangga. Di era di mana perubahan iklim menjadi ancaman global, setiap langkah kecil seperti ini bisa memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Jika Anda ingin mulai berkontribusi terhadap lingkungan sekaligus mendapatkan manfaat ekonomis, PLTS Atap adalah investasi masa depan yang berkelanjutan.

 


 

SolarKita siap membantu Anda memulai perjalanan menuju rumah tangga rendah emisi. Mulai dari konsultasi, survei lokasi, instalasi sistem, pengurusan izin, hingga perawatan—semuanya kami tangani secara profesional dan transparan.

Yuk, wujudkan rumah ramah lingkungan bersama SolarKita! Hubungi kami sekarang untuk konsultasi gratis.

 


 

Sumber:

  • International Renewable Energy Agency (IRENA). (2021). Renewable Power Generation Costs.
  • Kementerian ESDM RI. (2023). Statistik EBTKE Indonesia.
  • Gautami, S., Mubarak, & Siregar, Y. I. (2023). Pemanfaatan Energi Surya Sebagai Upaya Pengurangan Emisi Di Wilayah Provinsi Riau. Jurnal Lingkungan ZONA, 7(1), 56–66. 

 

Table of Contents

    iconHaveQuestion
    Have a question?
    Ask our team!
    Let's talk

    Hitung Penawaran Anda

    Cari tahu sistem panel surya yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Isi pilihan dibawah untuk menghitung penawaran sesuai kebutuhan Anda.Penawaran
      © 2025 Copyright PT. Solar Kita Teknologi
      |