Blog › Uncategorized › Apakah Panel Surya Menyebabkan Pemanasan Global?
Dwita Rahayu Safitri
Content Writer & Analyst
5 min read September 18, 2024 in

Di tengah upaya global untuk mengurangi emisi karbon dan mengatasi perubahan iklim, panel surya telah menjadi salah satu solusi paling populer untuk menghasilkan energi bersih dan terbarukan. Namun, seiring dengan semakin luasnya adopsi teknologi ini, muncul pertanyaan: apakah panel surya, yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan, dapat berkontribusi terhadap pemanasan global? Artikel ini akan mengulas bagaimana panel surya bekerja, mengapa mereka dianggap ramah lingkungan, dan apakah ada bukti bahwa mereka dapat menyebabkan pemanasan global.
Panel surya, atau modul fotovoltaik (PV), bekerja dengan mengubah sinar matahari menjadi listrik. Proses ini melibatkan bahan semikonduktor, seperti silikon, yang menyerap foton dari sinar matahari dan melepaskan elektron, menciptakan aliran listrik. Teknologi ini tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca selama operasi, menjadikannya salah satu sumber energi paling bersih yang tersedia.
Panel surya biasanya dipasang di atap bangunan, ladang surya di darat, atau bahkan mengapung di atas air. Mereka membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak, yang merupakan penyebab utama emisi karbon dioksida (CO₂) dan gas rumah kaca lainnya yang memicu pemanasan global.
Untuk menjawab pertanyaan ini, penting untuk memahami beberapa konsep yang berkaitan dengan dampak lingkungan dari penggunaan panel surya:
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ladang surya yang sangat besar, seperti yang terdapat di gurun, dapat menyebabkan peningkatan suhu lokal di sekitar area tersebut. Efek ini dikenal sebagai solar heat island effect atau efek pulau panas surya. Ketika panel surya menyerap sinar matahari, sebagian energi tersebut diubah menjadi listrik, tetapi sebagian lainnya dilepaskan sebagai panas. Ini dapat meningkatkan suhu di sekitar ladang surya secara lokal.
Studi yang dilakukan di California, misalnya, menunjukkan bahwa ladang surya dapat meningkatkan suhu lokal sebesar 3-4 derajat Celsius di siang hari. Namun, penting untuk dicatat bahwa efek ini hanya terjadi secara lokal dan tidak berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Efek pemanasan lokal ini juga jauh lebih kecil dibandingkan dengan pemanasan yang disebabkan oleh pembangkit listrik berbahan bakar fosil atau aspal dan beton di kota-kota besar .
Produksi panel surya memang memerlukan energi, yang sering kali masih berasal dari sumber energi berbahan bakar fosil. Proses ini melibatkan ekstraksi bahan baku seperti silikon, manufaktur, dan transportasi, yang semuanya menghasilkan emisi karbon. Namun, penelitian menunjukkan bahwa dalam waktu beberapa tahun penggunaan (biasanya sekitar 1-3 tahun), panel surya menghasilkan energi yang cukup untuk “menutup” emisi karbon yang dihasilkan selama proses pembuatan, yang dikenal sebagai energy payback time.
Setelah fase ini, panel surya menghasilkan energi bersih tanpa emisi tambahan selama sisa umur operasionalnya, yang bisa mencapai 25-30 tahun atau lebih. Menurut Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), emisi karbon total dari panel surya sepanjang siklus hidupnya adalah jauh lebih rendah dibandingkan dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Albedo adalah ukuran seberapa banyak sinar matahari yang dipantulkan kembali ke luar angkasa oleh permukaan Bumi. Permukaan yang lebih cerah, seperti es dan salju, memiliki albedo tinggi dan memantulkan lebih banyak cahaya, sementara permukaan yang lebih gelap, seperti lahan tandus atau air, memiliki albedo rendah dan menyerap lebih banyak energi matahari.
Panel surya, karena berwarna gelap, memiliki albedo yang lebih rendah daripada beberapa jenis permukaan alami seperti pasir atau salju. Akibatnya, mereka menyerap lebih banyak sinar matahari dan dapat menyebabkan sedikit peningkatan suhu permukaan di area yang luas. Namun, efek ini sangat kecil dibandingkan dengan manfaat pengurangan emisi gas rumah kaca dari penggunaan energi terbarukan. Bahkan, ketika panel surya dipasang di atap bangunan, mereka dapat mengurangi panas yang diserap oleh atap dan membantu mengurangi kebutuhan energi untuk pendinginan ruangan.
Meski ada beberapa efek lokal, penggunaan panel surya secara keseluruhan membawa manfaat yang jauh lebih besar bagi lingkungan. Dengan menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, panel surya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca yang merupakan penyebab utama pemanasan global. Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), energi surya adalah salah satu solusi paling efektif untuk mengurangi emisi karbon dioksida secara global.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa panel surya tetap dianggap sebagai solusi utama untuk memerangi pemanasan global:
Meskipun panel surya dapat menyebabkan sedikit peningkatan suhu lokal di sekitar ladang surya yang besar dan membutuhkan energi untuk proses produksinya, dampak ini sangat kecil dibandingkan dengan manfaat besar yang ditawarkannya dalam memerangi pemanasan global. Panel surya adalah salah satu solusi energi terbarukan yang paling efektif untuk mengurangi emisi karbon dan mendukung transisi ke sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dalam jangka panjang, peningkatan adopsi teknologi surya akan membantu menurunkan suhu global dan melindungi planet ini dari dampak buruk perubahan iklim.
Sumber: